JAJAK PENDAPAT

Bagaimana pelayanan pendidikan di STPP Bogor
Baik
Biasa saja
Kurang
  Lihat

STPP BOGOR MERUPAKAN PERKEMBANGAN DARI LEMBAGA PENDIDIKAN PERTANIAN TERTUA DI INDONESIA


PERKEMBANGAN LEMBAGA

       Keberadaan pendidikan pertanian di STPP Bogor tidak dapat dipisahkan dari peranan Kebun Raya Bogor yang didirikan oleh DR. CGC. Reinwardt. Pada awal tahun 1876 Kebun Raya Bogor memperluas areanya seluas 72,5 ha yang terletak di Desa Cikeumeuh untuk keperluan kebun budidaya. Kebun ini difungsikan untuk tiga macam kegiatan yaitu penelitian, penyuluhan dan pendidikan. Pada tahun 1884, Sekolah Pertanian ini terbakar dan dibubarkan. Baru 15 tahun kemudian, mulai didirikan Lembaga Pendidikan Pertanian, berturut-turut : Kursus Hortikultura (1898), Kursus Pertanian (1900), Sekolah Pertanian (1903), Sekolah Kedokteran Hewan/ Nederlansche Indische Veeartsen School (1908), Sekolah Pertanian Menengah Atas/Middlebare Landbouw School (1913), dan Sekolah Kehutanan Menengah Atas/Middlebare Boshbouw School (1939). Sekolah-sekolah tersebut dikelola dan dibina oleh Departemen Pertanian (Departement Van Landbouw).

        Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA/MLS) Bogor dapat dikatakan sebagai sekolah pertanian yang paling terkemuka. Sekolah ini didirikan dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda pada Agustus 1913. SK ini menetapkan bahwa Sekolah Pertanian (Landbouw School) yang didirikan pada tahun 1903 dihentikan kemudian ditingkatkan menjadi SPMA/MLS dengan 2 (dua) minat studi yaitu Ilmu Pertanian dan Kehutanan. Seluruh siswanya mendapat beasiswa dan sebagian berstatus ikatan dinas. Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA/MBS) merupakan sempalan dari SPMA/MLS. Karena kekhususannya, maka pada tahun 1939 Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk memisahkan Jurusan Kehutanan dari SPMA/MLS menjadi sekolah sendiri dengan nama Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA). Sekolah ini dipindahkan dari Bogor ke Madiun dan seluruh siswanya diikat dengan sistem ikatan dinas.       

        Pada masa pendudukan Jepang, SPMA/MLS ditutup karena alasan keamanan. Namun pada bulan Agustus 1942 sekolah ini dibuka kembali dengan nama Sekolah Pertanian Menengah Tinggi (SPMT) dan memiliki dua jurusan yaitu Jurusan Pertanian dan Jurusan Kehutanan, dan MBS di Madiun digabungkan ke SPMT Bogor. Setahun kemudian Jurusan Kehutanan dipisahkan menjadi Sekolah Kehutanan Menengah Tinggi (SKMT). Pada tahun 1994 di Malang didirikan Sekolah Pertanian setingkat SPMT. Pada awal kemerdekaan (1947), SPMT (SPMA/MSL) bertambah menjadi 5 lembaga yang berlokasi di Bogor, Malang, Klaten, Bukit Tinggi, dan Makasar. Pada bulan Agustus 1950 keluar SK Menteri Pertanian RI yang mewajibkan semua SPMA untuk melaksanakan kurikulum yang seragam. Hingga tahun 1960 Sekolah Pendidikan Pertanian Tingkat Lanjutan Atas yang dibuka adalah (1) SPMA di Bogor, Malang, Yogyakarta, Makasar, Bukit Tinggi, Medan, Palembang, Banjar Baru, Mataram, Ambon; (2) Sekolah Kehewanan Menengah Atas di Malang; (3) Sekolah Perikanan Darat Menengah Atas di Bogor; (4) Sekolah Perikanan Laut Menengah Atas di Jakarta; (5) Sekolah Menengah Usahatani di berbagai provinsi; (6) dan sekolah swasta (SPMA dan SPbMA) di Solo, Jember, Mujamuju dan Medan. Dalam akhir Pelita I (1974), Sekolah pertanian yang semula berorientasi monovalent diubah menjadi polyvalent, yaitu siswa mempelajari berbagai bidang pertanian dengan tetap mendapat kesempatan untuk memperdalam salah satu bidang tertentu pada akhir masa belajarnya. Sebagai konsekuensinya nama-nama sekolah kejuruan pertanian pun berubah menjadi Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP), dan agar tidak membingungkan tetap mencantumkan nama lama seperti misalnya SPP-SPMA, SPP-SNAKMA, SPP-SUPM. Pada Pelita V Sekolah Pertanian Menengah Atas terdiri dari SPP Negeri (yang dikelola oleh Departemen Pertanian) berjumlah 30 sekolah, SPP Daerah (yang dikelola pemerintah daerah) berjumlah 80 sekolah dan SPP Swasta yang berjumlah 80 sekolah. Dalam perkembangan selanjutnya (1987), dengan pemikiran bahwa diperlukan penyuluh pertanian yang lebih baik pendidikannya, 9 SPP Negeri (Bogor 3 SPP, Malang 2 SPP, Medan, Magelang, Yogyakarta dan Gowa) berubah bentuk menjadi Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) Ahli Penyuluhan Pertanian (APP) dengan masa pendidikan 3 tahun (program Diploma III). Selanjutnya pada tahun 1992, DIKLAT APP berubah menjadi Akademi Penyuluhan Pertanian (APP) yang berkedudukan di Bogor Medan, Magelang, Yogyakarta, Malang dan Gowa. 

        Pada Tanggal 11 April 2001 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Keppres No. 50 tahun 2001 yang menetapkan Akademi Penyuluhan Pertanian di Bogor dan Malang ditingkatkan statusnya menjadi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP), khusus Bogor memiliki 4 jurusan yaitu Jurusan Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Peternakan, Jurusan Penyuluhan Perikanan, dan Jurusan Penyuluhan Kehutanan dengan 4 lokasi kampusnya yaitu Cibalagung, Cinagara, Cikaret, dan Rumpin. Setahun kemudian (2002) APP lain mengikuti perubahan ini APP Magelang dan Yogyakarta bergabung menjadi STPP Yogyakarta, STPP Medan, dan STPP Gowa. Pertimbangan pendidikan ini diperlukan oleh seluruh penyuluh di Indonesia dalam perkembangannya di tahun 2004 berdiri STPP Manokwari dan STPP Nangro Aceh Darusalam (NAD). Pada tahun 2006 berdasarkan Keppres No. : 783/SM.620/A/11/05 dan No. : 08/SJ/DKP/XI/2005, tanggal 14 November 2005, Jurusan Penyuluhan Perikanan menjadi bagian dari Departemen Kelautan dan Perikanan sedangkan Jurusan Penyuluhan Kehutanan tidak lagi menerima mahasiswa baru.


PIMPINAN DARI MASA KE MASA

       STPP Bogor mengalami perkembangan kelembagaan sejak tahun 1903, mulai dari Sekolah Pertanian, MLS, SPMA, SPMT, SPP-SPMA, Diklat Ahli Penyuluhan Pertanian, Akademi Penyuluhan Pertanian, hingga Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian. Pemimpin STPP Bogor terbagi menjadi 3 era yaitu masa sebelum kemerdekaan (1903 - 1945), setelah kemerdekaan sebelum terjadinya pemberontakan G 30 S PKI (1945 - 1966), dan setelah tahun 1966. Para pemimpin STPP Bogor pada setiap eranya yaitu sebagai berikut.: